SMKN 1 KALIPURO GELAR IHT RENCANA PEMBELAJARAN MENDALAM, SIAPKAN PERWIRA PELAYARAN BERDAYA NALAR KRITIS
BANYUWANGI,
e-bulletin—Gelombang reformasi tata kelola kurikulum pendidikan kembali berembus
di ruang-ruang kelas. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kalipuro,
Banyuwangi—sebuah institusi vokasi bereputasi yang mencetak calon perwira
pelayaran kapal niaga—menggelar In House Training (IHT) Perancangan
Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM), Rabu (9/9/2026).
Langkah ini
menandai babak baru dalam transformasi pedagogi di sekolah kebaharian tersebut.
Pelatihan intensif yang dirancang berlangsung selama dua hari, 9–10 September
2026, berfokus pada pengalihan paradigmatis dari penyusunan dokumen
administratif konvensional menuju perancangan skenario belajar yang
berorientasi pada substansi ilmiah serta penalaran kritis murid.
Penggunaan
istilah Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM) sekaligus mempertegas pergeseran
nomenklatur kurikulum yang cukup dinamis dalam satu dekade terakhir.
Dokumentasi pengajaran yang pada era Kurikulum 2013 dikenal sebagai Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kemudian bertransformasi menjadi Modul Ajar
pada era Kurikulum Merdeka di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset,
dan Teknologi (Kemendikbudristek), kini kembali disempurnakan strukturnya
melalui konsepsi RPM.
Perubahan
ini tidak sekadar berganti nama di atas kertas, melainkan menuntut reorientasi
mendasar pada cara guru merancang dinamika interaksi di dalam kelas.
Mereduksi
Beban Administrasi, Menajamkan Substansi
Hadir
sebagai pemateri tunggal dalam IHT tersebut, Pengawas SMK Kabupaten Banyuwangi,
Lilik Istianah, M.Pd. Dalam paparan pembukanya di hadapan puluhan pendidik dan
pengajar keahlian bahari, Lilik menekankan pentingnya guru keluar dari jebakan
formalitas penyusunan dokumen. Menurutnya, RPM dirancang untuk memangkas
ketebalan berkas yang acap kali membebani tenaga pendidik, tanpa mengurangi
kedalaman materi dan fleksibilitas proses belajar
"Rencana
Pembelajaran Mendalam hadir bukan untuk menambah beban birokrasi pendidik,
melainkan untuk mengembalikan hakikat mengajar sebagai seni menumbuhkan rasa
ingin tahu dan nalar kritis siswa," ujar Lilik di selasar ruang guru SMKN
1 Kalipuro.
Lilik
memaparkan, pada hari pertama pelaksanaan IHT, empat pilar utama penyusunan RPM
telah berhasil dibedah secara tuntas dan komprehensif oleh seluruh peserta:
- Analisis Capaian Pembelajaran (CP): Guru
diajak membedah kembali kompetensi inti dan esensi materi yang harus
dikuasai murid pada setiap fase perkembangan, dengan menyesuaikan karakter
kejuruan vokasi.
- Tujuan Pembelajaran (TP):
Merumuskan arah pembelajaran yang terukur, mencakup dimensi kognitif,
keterampilan teknis (hard skills), hingga pembentukan
karakter profesional (soft skills).
- Alur Tujuan Pembelajaran (ATP):
Menyusun peta jalan pengajaran secara berurutan, sistematis, dan logis
agar proses pencapaian kompetensi berjalan secara bertahap dan
berkelanjutan.
- Penyusunan Dokumen RPM:
Mengintegrasikan seluruh hasil analisis ke dalam format Rencana Pembelajaran
Mendalam yang ringkas, fleksibel, tetapi berbobot ilmiah tinggi.
Lilik
menambahkan, bagi sekolah vokasi berbasis maritim seperti SMKN 1 Kalipuro,
penyusunan RPM memiliki tantangan tersendiri. Keterampilan teknis
kebaharian—mulai dari navigasi, permesinan kapal, hingga tata boga kapal
niaga—memerlukan ketepatan alur pembelajaran yang selaras dengan standar
keselamatan dan regulasi kebaharian nasional maupun internasional.
Oleh karena
itu, penalaran dalam RPM harus mampu menghubungkan teori dasar ilmu kebaharian
dengan praktik operasional di lapangan.
Integrasi
Budaya Bahari dan Kemandirian Belajar
Pelaksanaan
IHT hari pertama yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari berlangsung
interaktif. Para guru tidak hanya mendengarkan pemaparan teoretis, tetapi juga
langsung berdiskusi melintasi disiplin ilmu—mengawinkan mata pelajaran muatan
umum seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris dengan mata
pelajaran kejuruan nautika serta teknika.
Kepala SMKN
1 Kalipuro beserta jajaran manajemen sekolah menyambut baik sinkronisasi format
RPM ini. Dalam lingkungan pendidikan perwira pelayaran, kedisiplinan dan
ketegasan merupakan fondasi utama. Namun, dalam konteks pembelajaran di kelas,
pendekatan yang humanis dan berkedalaman logis tetap menjadi kunci agar para
taruna dan taruni tidak sekadar menghafal prosedur, melainkan memahami alasan
di balik setiap prosedur teknis yang mereka jalankan.
"Taruna
kapal niaga tidak hanya dituntut terampil mengolah kemudi atau merawat mesin
diesel penggerak utama, tetapi juga harus memiliki kemampuan memecahkan masalah
(problem-solving) secara kritis di tengah laut. RPM memberikan
ruang bagi guru untuk merancang simulasi pemikiran seperti itu di dalam
kelas," ungkap salah seorang guru senior kejuruan di sela-sela kegiatan.
Tagihan
Mandiri dan Penyelarasan Format
Setelah
menyelesaikan empat tahapan konseptual pada hari pertama, agenda IHT pada
Kamis, 10 September 2026, akan dilanjutkan dengan sesi kurasi dan evaluasi
produk pembelajaran.
Seluruh
pendidik diwajibkan menyusun dan menyajikan "tagihan RPM"
masing-masing. Dokumen yang telah dirancang tersebut kemudian disesuaikan dan
diselaraskan dengan format baku RPM khas SMKN 1 Kalipuro yang telah
direkomendasikan oleh Pengawas SMK Kabupaten Banyuwangi.
Sesi
tagihan ini diproyeksikan menjadi ruang kolaborasi tatap muka antar-guru untuk
saling memberikan masukan konstruktif (peer review). Format baku
RPM SMKN 1 Kalipuro sendiri dirancang kontekstual, memadukan tuntutan kurikulum
nasional dengan karakteristik khusus sekolah pelayaran yang mengedepankan etos
kerja, keselamatan kerja, serta wawasan lingkungan pesisir.
Lilik
Istianah menegaskan bahwa proses verifikasi tagihan pada hari kedua esok bukan
bertujuan untuk menguji kesempurnaan dokumen secara kaku, melainkan untuk
memastikan bahwa setiap indikator pembelajaran yang dibuat oleh guru
benar-benar dapat diimplementasikan (workable) saat berhadapan dengan
siswa di kelas.
"Esok
kita akan melihat bagaimana konsep abstrak yang kita bahas hari ini
diterjemahkan ke dalam skenario nyata di kelas. Kita ingin memastikan bahwa
ketika bel masuk berbunyi, setiap guru sudah memegang peta navigasi
pembelajaran yang jelas," tegas Lilik.
Menjaga
Semangat di Ujung Timur Jawa
Di tengah
dinamika perubahan kebijakan pendidikan nasional yang terus bergulir, ikhtiar
yang ditunjukkan oleh civitas akademika SMKN 1 Kalipuro Banyuwangi menjadi
bukti nyata komitmen adaptabilitas tenaga pendidik di daerah. Selaras dengan
motto kerja yang selalu digaungkan di lingkungan sekolah, semangat untuk terus
belajar dan membenahi kualitas pengajaran menjadi modal utama dalam mencetak
SDM unggul di bidang maritim.
Pelatihan
yang berlangsung di kawasan pesisir Kalipuro ini ditutup pada hari pertama
dengan optimistis. Para pendidik bersiap menyambut sesi finalisasi besok pagi
dengan semangat profesionalisme yang tinggi. Selamat ber-IHT para guru
Semakapura Banyuwangi, dan selalu bersemangat pagi!#