Pendidik Se-Banyuwangi Berkumpul di TPN XIII, Bahas Visi Desa Dunia Hingga Evaluasi Total Sekolah Inklusi
BANYUWANGI,
e-bulletIn—Ratusan
pendidik dari berbagai jenjang persekolahan melangkah mantap memasuki area
pelaksanaan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Banyuwangi pada Rabu
(29/7/2026). Mengusung tema besar "Cita-Cita Kolektif: Kewargaan Desa
Dunia", perhelatan besar yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis
(30/7/2026) ini menjadi panggung konsolidasi gagasan, ruang bertukar
pengalaman, sekaligus ajang evaluasi kritis terhadap dinamika serta kualitas
realisasi pendidikan di Bumi Blambangan.
Sejak pukul
08.00 WIB, suasana tempat acara telah dipadati oleh para guru yang datang dari
segenap penjuru wilayah Kabupaten Banyuwangi. Mulai dari pendidik jenjang
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD),
Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK), Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga jenjang madrasah seperti
Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA)
berkumpul dalam satu ruang diskusi yang dinamis. Kehadiran lintas jenjang dan
lintas institusi ini menegaskan komitmen bersama dalam merajut simpul-simpul
perubahan pendidikan lokal agar mampu beradaptasi dan bersaing di kancah
global.
Menegaskan Visi Kewargaan Desa Dunia
Rangkaian
acara diawali dengan khidmat melalui pembukaan resmi dan penyampaian sambutan
oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Dalam arahannya di hadapan ratusan
tenaga pendidik, Ipuk menekankan betapa krusialnya peran strategis seorang
pendidik dalam membentuk karakter generasi muda yang berwawasan global tanpa
harus mencabut akar nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas bangsa.
Ipuk
menyampaikan bahwa tema yang diusung dalam perhelatan tahun ini bukanlah
sekadar slogan manis di atas kertas. Tema tersebut merupakan panggilan
kesadaran bagi seluruh elemen pendidikan di Banyuwangi untuk menyiapkan anak
didik yang adaptif terhadap kemajuan zaman, memiliki cara pandang yang terbuka
dan inklusif, tetapi tetap kokoh menggenggam nilai-nilai kearifan lokal.
Menurutnya, untuk menjadi bagian dari warga dunia, seorang peserta didik harus
memiliki fondasi karakter yang kuat serta pemahaman empati yang mendalam
terhadap perbedaan.
Usai sesi
pembukaan resmi selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan ke agenda utama yakni
pemaparan materi dari para narasumber terpilih yang dihadirkan dari pelbagai
latar belakang kepakaran. Sinergi antara akademisi, praktisi komunitas, dan
pihak birokrasi pemerintah daerah tersaji dengan apik melalui paparan materi
yang disampaikan oleh dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pegiat Rumah
Literasi Banyuwangi Tunggul Harwanto, M.Kes., serta Plt. Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. Alfian, M.Pd.
Para
narasumber membedah konsep besar kewargaan desa dunia dari pelbagai sudut
pandang yang saling melengkapi. Dosen dari Institut Pertanian Bogor menekankan
pentingnya integrasi ilmu pengetahuan modern, penguatan literasi ekologis,
serta pemanfaatan teknologi informasi secara bijak dalam proses pembelajaran
harian di kelas. Pemanfaatan teknologi dan wawasan wirausaha berbasis potensi
lokal dinilai menjadi kunci agar peserta didik dari pelosok desa mampu memiliki
daya saing yang sejajar dengan masyarakat global.
Sementara
itu, Tunggul Harwanto selaku pegiat dari Rumah Literasi Banyuwangi menyoroti
pentingnya membangun gerakan literasi berbasis komunitas yang berakar di
desa-desa. Menurut Tunggul, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan
menulis teks, melainkan kemampuan memahami realitas sosial, mengolah informasi
secara kritis, serta membangun ruang-ruang belajar yang ramah bagi semua
golongan tanpa terkecuali. Ia mendorong para guru untuk membuat inovasi
pembelajaran yang tidak hanya terfokus di dalam dinding kelas, tetapi juga
memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang kaya.
Di sisi
lain, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. Alfian, M.Pd.,
memaparkan berbagai arah kebijakan strategis yang sedang dan akan dijalankan
oleh pemerintah daerah. Alfian menegaskan komitmen Dinas Pendidikan dalam
mendukung peningkatan profesionalisme guru melalui pelbagai program pelatihan,
perbaikan sarana prasarana sekolah, serta pemenuhan hak-hak pendidikan bagi
seluruh anak di Kabupaten Banyuwangi.
Kritik Pedas Inklusivitas: Antara Simbolis dan Realitas
Suasana
forum yang semula berlangsung tenang dan sarat materi teoretis mendadak berubah
menjadi hangat ketika sesi tanya jawab dibuka bagi peserta. Dinamika diskusi
memuncak saat utusan guru dari SMKN 1 Kalipuro Banyuwangi mendapatkan
kesempatan menyampaikan pandangan serta pertanyaan langsung kepada para
narasumber di atas panggung. Tanpa basa-basi, perwakilan guru tersebut
melontarkan kritik menohok terkait implementasi program penyelenggaraan sekolah
inklusi di lapangan.
Dalam
interpelasi kritisnya, perwakilan SMKN 1 Kalipuro menyoroti bahwa
penyelenggaraan sekolah inklusi saat ini terkesan kurang serius dan kerap
berhenti pada tataran simbolis semata. Label sekolah inklusi yang diberikan
kepada sejumlah sekolah dinilai belum diimbangi dengan kesiapan ekosistem
pendukung yang memadai di tingkat tapak.
Pihaknya
menyoroti minimnya fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik
berkebutuhan khusus. Di banyak sekolah yang dilabeli sebagai sekolah inklusi,
keberadaan sarana dan prasarana penunjang terbilang sangat minim atau bahkan
tidak ada sama sekali. Salah satu contoh konkret yang disebutkan adalah tidak
tersedianya buku-buku berhuruf Braille bagi siswa penyandang tunanetra, serta
belum tersedianya aksesibilitas fisik yang ramah disabilitas di lingkungan
bangunan sekolah.
Tak hanya
persoalan ketersediaan fasilitas fisik yang tidak memadai, utusan SMKN 1
Kalipuro tersebut juga membeberkan permasalahan krusial yang terjadi pada aspek
pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) para pendidik. Ia
mengungkapkan adanya ketimpangan dan ketidakmerataan dalam penunjukan peserta
pelatihan atau pendidikan dan pelatihan (diklat) yang berkaitan dengan
pendidikan inklusif.
Berdasarkan
penjelasannya, pengiriman guru untuk mengikuti diklat tata kelola sekolah
inklusi terkesan tidak transparan dan hanya berputar pada figur yang sama. Pola
pengiriman yang cenderung memprioritaskan "orang yang itu-itu saja"
mengakibatkan sebagian besar guru di sekolah tidak memiliki pengetahuan dan
keterampilan dasar dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dampak
buruk dari pola tersebut semakin diperparah oleh tidak adanya sistem diseminasi
atau pengimbasan hasil pelatihan yang terstruktur di internal sekolah. Guru
yang telah selesai mengikuti diklat tidak membagikan modul, materi, maupun
pengalaman yang didapatkannya kepada rekan-rekan sesama guru di sekolahnya.
Akibatnya, pengetahuan teknis mengenai metode pembelajaran inklusif berhenti
pada individu tertentu saja dan tidak pernah menjadi pengetahuan kolektif
lembaga sekolah. Hal ini mengakibatkan proses belajar bagi anak berkebutuhan
khusus menjadi tidak optimal dan membingungkan sebagian besar tenaga pengajar.
Tanggapan Normatif dan Tantangan Evaluasi Total
Menanggapi
rentetan kritik yang tajam dan berbasis realitas lapangan tersebut, Plt. Kepala
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. Alfian, M.Pd., memberikan jawaban di
hadapan seluruh peserta forum. Dalam tanggapannya, Alfian menjelaskan bahwa
pihak Dinas Pendidikan menyambut baik setiap masukan yang disampaikan dan terus
memiliki komitmen untuk membenahi serta memperkuat tata kelola pendidikan
inklusif di Kabupaten Banyuwangi.
Alfian
menjelaskan bahwa upaya pemenuhan fasilitas dan sarana prasarana penunjang bagi
sekolah-sekolah inklusi memang membutuhkan waktu dan anggaran yang tidak
sedikit. Keterbatasan alokasi anggaran pemerintah daerah menjadi salah satu
kendala utama mengapa pengadaan fasilitas khusus seperti buku Braille dan alat
bantu belajar lainnya belum bisa dilakukan secara serentak di seluruh sekolah.
Pemenuhan fasilitas tersebut, menurutnya, akan terus diupayakan secara bertahap
sesuai dengan skala prioritas dan ketersediaan anggaran.
Mengenai
keluhan terkait ketidakmerataan diklat dan ketiadaan kegiatan diseminasi hasil
pelatihan antarguru, Alfian menyampaikan bahwa pihak dinas akan melakukan
evaluasi terhadap mekanisme penunjukan peserta diklat. Dinas Pendidikan
berjanji akan menata ulang sistem pendataan agar kesempatan mengikuti pelatihan
dapat dirasakan secara bergantian oleh para pendidik lainnya. Selain itu, pihak
dinas juga menyatakan akan menegaskan kembali kewajiban bagi setiap guru yang
telah mengikuti diklat untuk melakukan diseminasi materi kepada rekan-rekan
sejawat di sekolah asal masing-masing.
Meskipun
demikian, sejumlah peserta yang mengikuti jalan perhelatan tersebut menilai
bahwa jawaban yang diberikan oleh pihak dinas masih tergolong normatif dan
belum menyentuh akar penyelesaian masalah secara konkret. Tanggapan tersebut
dinilai belum memberikan solusi jangka pendek yang jelas mengenai bagaimana
sekolah-sekolah inklusi harus bersikap saat ini ketika berhadapan langsung
dengan anak-anak berkebutuhan khusus di dalam kelas tanpa dukungan sarana dan
keterampilan yang memadai.
Kritik dari
SMKN 1 Kalipuro ini pun menjadi catatan tebal dalam gelaran TPN XIII. Hal
tersebut menjadi pengingat keras bahwa komitmen membangun kewargaan yang
inklusif tidak boleh sekadar menjadi jargon manis dalam seminar-seminar
pendidikan, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan anggaran,
ketersediaan fasilitas fisik, serta pemerataan kompetensi guru secara nyata di
lapangan.
Debat Pendidikan hingga Menjangkau Malaysia
Setelah
sesi pleno materi utama dan diskusi tanya jawab yang berlangsung hangat usai
dilaksanakan, perhelatan Temu Pendidik Nusantara XIII Kabupaten Banyuwangi
dilanjutkan dengan agenda kompetisi yakni lomba debat pendidikan. Lomba ini
menjadi panggung adu argumentasi dan pemikiran kritis bagi para pendidik dari
berbagai jenjang sekolah dalam membedah pelbagai persoalan krusial yang tengah
melanda dunia pendidikan nasional.
Dalam lomba
debat tersebut, para peserta saling berhadapan untuk memperdebatkan berbagai
topik hangat, mulai dari efektivitas penerapan kurikulum terbaru, tantangan
integrasi teknologi kecerdasan buatan dalam proses belajar mengajar, dilema
perlindungan hukum bagi profesi guru, hingga strategi pemenuhan hak-hak
pendidikan bagi masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Diskusi dalam lomba debat berjalan sangat dinamis dan menunjukkan tingginya
kepedulian serta kedalaman pemikiran para guru di Banyuwangi terhadap masa
depan dunia pendidikan.
Tidak hanya
terbatas pada ruang-ruang diskusi fisik di lokasi acara, panitia penyelenggara
TPN XIII Kabupaten Banyuwangi juga memperluas jangkauan interaksi dengan
memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Acara dilanjutkan dengan sesi zoom meeting
interaktif yang menghubungkan para peserta di Banyuwangi dengan komunitas guru
Indonesia yang sedang bertugas mengajar di Malaysia.
Sesi
pertemuan virtual antarnegara ini menjadi momentum yang sangat bernilai untuk
saling berbagi cerita, pengalaman, serta tantangan dalam menjalankan tugas
mendidik. Para guru yang bertugas di Malaysia membagikan kisah perjuangan
mereka dalam memberikan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran
Indonesia (PMI) yang berada di perkebunan-perkebunan maupun kawasan pinggiran
di Malaysia. Tantangan keterbatasan akses dokumen, minimnya fasilitas sekolah,
hingga persoalan psikososial anak-anak migran menjadi bahan diskusi yang
menyentuh empati para peserta di Banyuwangi.
Pertukaran
pengalaman ini semakin mempertegas makna dari tema besar "Kewargaan Desa
Dunia". Para guru menyadari bahwa batas-batas wilayah administratif tidak
boleh membatasi semangat solidaritas dan kebersamaan dalam mencerdaskan
anak-anak bangsa. Di mana pun anak-anak Indonesia berada, mereka berhak
mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas, ramah, dan memanusiakan.
Rangkaian
kegiatan pada hari pertama Temu Pendidik Nusantara XIII Kabupaten Banyuwangi
ini akhirnya resmi ditutup tepat pada pukul 15.00 WIB. Meskipun acara untuk
hari pertama telah selesai, semangat dan riak diskusi dari para peserta masih
terus terasa. Banyak guru yang memanfaatkan waktu seusai acara resmi untuk
saling bertegur sapa, berjejaring, dan melanjutkan diskusi-diskusi kecil
terkait inovasi pembelajaran di sekolah masing-masing.
Perhelatan
TPN XIII Kabupaten Banyuwangi dipastikan masih akan berlanjut pada besok hari,
Kamis (30/7/2026). Agenda hari kedua diproyeksikan akan menghadirkan lebih
banyak ruang berbagi praktik baik (good practices), lokakarya pembuatan
media pembelajaran kreatif, serta penyusunan rekomendasi bersama yang akan
diserahkan kepada pihak-pihak pemangku kebijakan pendidikan di Kabupaten
Banyuwangi. Hari pertama perhelatan ini telah membuktikan bahwa guru tidak
hanya sekadar pelaksana kurikulum di dalam kelas, tetapi juga merupakan agen
perubahan yang kritis dan berani memperjuangkan keadilan pendidikan bagi
seluruh anak bangsa.#