SIKAP Tahap Kedua: Perluas Lahan Pangan Sekolah
BANYUWANGI, e-buletin — Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) yang awalnya
diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mulai menunjukkan
kemandirian di tingkat satuan pendidikan. Sejak diluncurkan secara resmi oleh
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada 25 Januari lalu, program
ini memang didesain untuk dilepas dan dikelola secara mandiri oleh
masing-masing institusi sekolah. Salah satu sekolah yang sukses menangkap
tongkat estafet tersebut dan melanjutkannya ke tahap kedua adalah SMKN 1
Kalipuro, Banyuwangi. Sekolah yang dikenal sebagai pencetak sumber daya manusia
di bidang pelayaran kapal niaga ini membuktikan bahwa taruna-taruni laut juga
mampu menaklukkan sektor agraris.
Langkah berani SMKN 1 Kalipuro untuk menggulirkan SIKAP tahap kedua pada
Jumat (22/5/2026) bukan tanpa landasan yang kuat. Keputusan ini diambil
menyusul keberhasilan besar yang mereka torehkan pada fase pertama. Pada tahap
perdana tersebut, ekosistem sekolah berhasil membudidayakan komoditas
hortikultura hingga menghasilkan panen raya yang memuaskan. Proses pemetikan
hasil bumi pada fase pertama tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dari
akhir April hingga memasuki pekan pertama Mei 2026. Keberhasilan memanen di
tengah keterbatasan lahan sekolah inilah yang memicu motivasi besar bagi
seluruh warga SMKN Pelayaran Kapal Niaga ini untuk melangkah ke tingkat
berikutnya.
Diversifikasi
Varian di Lahan Terbatas
Pada fase kedua yang resmi dimulai pertengahan Mei ini, SMKN 1 Kalipuro
tidak ingin sekadar mengulang formula yang sama. Di atas lahan percontohan
mandiri yang berukuran 150 meter persegi, pihak sekolah melakukan ekspansi yang
lebih banyak terhadap jenis tanaman yang dibudidayakan. Jika pada tahap pertama
fokus penanaman hanya tertuju pada dua komoditas, yakni brokoli dan tomat, maka
pada tahap kedua ini varian tanaman ditambah secara signifikan. Evaluasi dari
hasil panen pertama mendorong sekolah untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan
pasar domestik dan konsumsi harian masyarakat sekitar.
Proses penanaman pada SIKAP tahap kedua ini melibatkan lima jenis
sayuran sekaligus secara serempak. Pihak sekolah mempertahankan komoditas
brokoli dan tomat yang sudah teruji kecocokannya dengan karakteristik tanah sekolah,
sekaligus menambahkan tiga varian sayur baru yang memiliki nilai ekonomis
tinggi, yaitu terong hijau, cabai rawit, dan cabai besar. Melalui perhitungan
estimasi logistik dan kalender agronomi yang matang, penanaman kelima jenis
sayuran ini diproyeksikan akan mencapai masa panen total secara bersamaan pada
bulan Agustus 2026 mendatang.
Kolaborasi
Estetika Seni dan Logika Agraris
Di balik transformasi lahan sekolah pelayaran menjadi area hijau yang
produktif ini, terdapat figur penggerak utama yang merancang seluruh konsep
penanaman. Ia adalah David Astiadi, S.Pd., seorang guru seni rupa di SMKN 1
Kalipuro yang memiliki latar belakang unik. Di luar jam dinasnya sebagai
pendidik yang mengajar estetika visual, David adalah seorang petani tulen yang
lahir, tumbuh, dan besar di kawasan agraris Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi.
Pengalamannya bertahun-tahun mengolah tanah di lumbung padi dan hortikultura
Banyuwangi selatan itu ia bawa sepenuhnya untuk menyukseskan program SIKAP di
sekolah tempatnya mengabdi.
Sebagai seorang guru seni rupa sekaligus praktisi pertanian, David mampu
melihat potensi lahan dari sudut pandang yang berbeda. Di tangannya, lahan
seluas 150 meter persegi milik SMKN 1 Kalipuro tidak hanya diolah secara
konvensional, melainkan dirancang dengan pendekatan lanskap yang presisi.
Pengaturan jarak tanam, pemetaan zonasi komoditas berdasarkan kebutuhan sinar
matahari, hingga tata letak saluran irigasi dikerjakan dengan memperhitungkan
fungsionalitas pertanian dan estetika visual. David memadukan ilmu seni rupa
mengenai komposisi ruang dengan ilmu agronomi terapan mengenai kesuburan tanah.
Kedisiplinan
Korps Pelayaran di Atas Tanah
Integrasi antara dunia pelayaran, seni rupa, dan pertanian ini
melahirkan atmosfer edukasi yang unik di lingkungan SMKN 1 Kalipuro. Karakter
disiplin tinggi yang menjadi ciri khas taruna-taruni kapal niaga rupanya
menjadi modal utama dalam menerapkan pola perawatan tanaman yang ketat.
Keterlibatan dalam program SIKAP tahap kedua ini tidak hanya menjadi aktivitas
sampingan, melainkan telah bergeser menjadi gerakan komunal yang masif. Seluruh
elemen sekolah terlibat aktif tanpa terkecuali, mulai dari jajaran guru mata
pelajaran umum, staf administrasi sekolah yang biasa mengurus berkas dokumen,
hingga para murid pelayaran yang terbiasa dengan tali-temali dan mesin kapal.
Antusiasme warga sekolah terlihat sangat nyata saat proses penanaman
bibit baru dilakukan pada Jumat pagi. Lahan seluas 150 meter persegi tersebut
dipadati oleh para guru dan murid yang memegang sekop, cangkul, dan baki bibit.
Bagi para siswa, kegiatan menanam lima jenis sayuran ini memberikan perspektif
baru bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab multidisiplin. Taruna
pelayaran kapal niaga yang biasanya dipersiapkan untuk menghadapi gelombang laut,
kini diajak untuk memahami karakter tanah, kelembapan udara, dan ekosistem
mikro yang memengaruhi pertumbuhan tanaman hortikultura.
Protokol
Perawatan Ketat Dua Alam
Untuk menjamin kelangsungan hidup kelima varietas tanaman tersebut
hingga Agustus 2026, David Astiadi menerapkan sistem manajemen perawatan harian
yang sangat ketat dan terjadwal secara presisi. Langkah ini krusial mengingat
karakteristik tanaman seperti cabai dan tomat sangat sensitif terhadap
perubahan lingkungan dan serangan penyakit. Manajemen air menjadi pilar utama
dalam pemeliharaan rutin ini. Aktivitas penyiraman dilakukan secara disiplin
sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pada pagi hari tepat pukul 05.00 WIB
untuk menyegarkan tanaman sebelum terpapar terik matahari, serta sore hari
tepat pukul 16.00 WIB guna menjaga stabilitas kelembapan tanah selama semalam
suntuk.
Selain pasokan air yang konsisten, perlindungan tanaman dari ancaman
eksternal berupa hama serangga dan jamur patogen juga menjadi perhatian serius
tim pengelola. Pada masa awal penanaman, di mana kondisi jaringan bibit sayuran
terong hijau, cabai, brokoli, dan tomat masih dalam fase adaptasi yang rentan,
proteksi diberikan secara intensif. Pemberian fungisida dan pestisida
dijadwalkan sebanyak tiga kali dalam sepekan. Pola proteksi tinggi ini
dipertahankan hingga tanaman dinilai telah memiliki sistem perakaran yang kuat
dan batang yang kokoh. Setelah fase kritis awal tersebut terlampaui, intensitas
pemberian fungisida dan pestisida diturunkan secara bertahap menjadi satu kali
saja dalam sepekan hingga mendekati masa panen.
Menakar
Kemandirian Pangan dari Pesisir Kalipuro
Kemandirian SMKN 1 Kalipuro dalam meneruskan program SIKAP ke tahap
kedua ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah kebijakan makro dari tingkat
provinsi dapat diinternalisasi dan dihidupkan secara lokal oleh satuan
pendidikan. Proyek ini membuktikan bahwa pelepasan program dari tingkat Pemprov
justru memicu kreativitas dan rasa kepemilikan yang lebih tinggi di tingkat
sekolah, tanpa harus terus-menerus bergantung pada stimulus anggaran daerah.
Keberhasilan penanaman yang dimotori oleh seorang guru seni rupa berjiwa
petani, serta didukung penuh oleh semangat gotong royong warga sekolah
pelayaran kapal niaga, menunjukkan bahwa inovasi ketahanan pangan dapat tumbuh
subur di mana saja, asalkan dikelola dengan komitmen, disiplin, dan manajemen
yang presisi. Semua mata di lingkungan sekolah kini tertuju pada bulan Agustus,
menantikan saat di mana lahan 150 meter persegi tersebut akan berubah warna
menjadi hamparan hijau, merah, dan ungu dari totalitas hasil panen sayuran
mereka.#