KEMERIAHAN TRADISI NDOG-NDOGAN DAN KEBINEKAAN YANG MEMBUMI DI SMKN 1 KALIPURO

Featured blog image
DIMENSI • 17 September 2026

KEMERIAHAN TRADISI NDOG-NDOGAN DAN KEBINEKAAN YANG MEMBUMI DI SMKN 1 KALIPURO

Author

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor

BANYUWANGI, e-bulletin—Suara dentuman drumband berirama rancak menggelegar membelah keheningan kawasan Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (17/9/2026) pagi. Di sepanjang jalan raya utama hingga gang-gang permukiman warga, ratusan pasang mata menyaksikan deretan miniatur kapal, berbagai macam kembang, hingga kubah masjid yang dihiasi ratusan kembang ndog—telur rebus berselubung kertas minyak warna-warni yang ditancapkan pada bambu runcing hias.

Arak-arakan budaya yang dikenal dengan sebutan kirab jodang ndog-ndogan ini menjadi puncak dari rangkaian panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh civitas akademika Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kalipuro Banyuwangi. Sejak Senin (14/9/2026), suasana di sekolah yang dikenal sebagai pencetak perwira pelayaran kapal niaga tersebut telah dipenuhi dinamika kreativitas, semangat bergotong-royong, serta pemandangan indah tentang keberagaman agama yang menyatu dalam nilai kebangsaan.

Rangkaian acara yang berlangsung selama sepekan ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan seremonial keagamaan belaka. Lebih dari itu, momentum ini menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya, pembentukan karakter peserta didik, penanaman jiwa korsa kelautan, hingga pembuktian nyata atas indahnya toleransi antarumat beragama di lingkungan pendidikan vokasi.


Momentum Pelepasan Kirab dan Filosofi Tradisi Lokal

Tepat pukul 08.00 WIB, suasana di halaman utama SMKN 1 Kalipuro tampak meriah. Ratusan siswa dengan mengenakan seragam khas kebanggaan, pakaian adat, hingga busana Muslim kreatif telah berbaris rapi mengawal jodang karya kelas masing-masing. Jodang—struktur penyangga kayu atau bambu yang dirancang khusus untuk memikul belasan hingga puluhan telur hias—diangkat secara bergotong-royong oleh para siswa.

Kepala Kelurahan Kalipuro, Salim Syafi’i, hadir secara langsung untuk melepas keberangkatan rombongan kirab jodang yang mengelilingi wilayah strategis di Kecamatan Kalipuro. Dalam sambutan singkatnya sebelum mengibaskan bendera start, Salim menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak sekolah yang konsisten merawat tradisi lokal khas Bumi Blambangan sembari menanamkan nilai-nilai religius kepada para generasi muda.

"Tradisi ndog-ndogan adalah warisan leluhur Banyuwangi yang sarat akan makna filosofis keagamaan dan kemasyarakatan. Ketika tradisi ini diintegrasikan ke dalam lingkungan sekolah seperti SMKN 1 Kalipuro, kita tidak hanya sedang merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sedang mengajarkan kepada anak-anak kita pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi," ujar Salim Syafi’i di hadapan para peserta kirab dan warga sekitar.

Pelepasan kirab ditandai dengan pengibaran bendera kirab oleh Lurah Kalipuro. Begitu rombongan terdepan yang dipimpin oleh tim drumband sekolah mulai melangkah keluar dari gerbang Kelurahan Kalipuro, sorak-sorai dan tepuk tangan warga setempat langsung menyambut mereka.

Rute kirab yang melintasi jalan-jalan protokol Kalipuro mendadak menjadi panggung parade budaya gratis bagi masyarakat umum. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, berjejer di pinggir jalan untuk mengabadikan momentum tahunan tersebut melalui gawai mereka. Kehadiran drumband dengan artikulasi nada yang tegas khas taruna pelayaran kapal niaga makin menambah semarak suasana, membangkitkan kebanggaan warga sekitar terhadap keberadaan sekolah kejuruan tersebut.

Rangkaian Kegiatan Sepekan: Kreativitas dan Unjuk Bakat

Kirab jodang ndog-ndogan pada Kamis pagi ini merupakan puncak dari rentetan agenda yang telah disusun secara sistematis oleh panitia penyelenggara sejak awal pekan. Berdasarkan catatan panitia, rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Kalipuro resmi dimulai pada Senin (14/9/2026).

Pada hari pertama tersebut, atmosfer kompetisi yang sehat dan sarat kreativitas langsung terasa di setiap sudut ruang kelas. Seluruh siswa dari berbagai tingkat dan program keahlian ditantang untuk merancang serta merakit jodang ndog-ndogan secara mandiri. Setiap kelas diwajibkan mengorganisasi pembagian tugas, menentukan tema desain jodang, serta mengumpulkan bahan-bahan dekorasi yang dibutuhkan.

Tidak ada jodang yang dibuat secara asal-asalan. Siswa-siswi memanfaatkan aneka bahan daur ulang, bambu, kertas hias, kain batik, hingga ornamen bahari untuk mempercantik struktur jodang mereka. Ada kelas yang memilih bentuk replika kapal niaga sebagai representasi dari identitas sekolah pelayaran, ada pula yang membentuk miniatur ka'bah, hingga bentuk-bentuk geometris modern yang futuristik.

Sehari setelah proses pembuatan jodang yang menyita energi dan pikiran tersebut, tepatnya pada Rabu (16/9/2026), panggung utama sekolah disulap menjadi catwalk bertaraf profesional. Hari itu, digelar lomba fashion show busana Muslim berkonsep kreatif yang diikuti oleh perwakilan siswa dari setiap program keahlian.

Lomba fashion show ini berhasil menarik perhatian seluruh warga sekolah. Para peserta tampil percaya diri melangkah di atas panggung dengan memperagakan beraneka rupa kreasi busana. Mulai dari perpaduan busana Muslim modern dengan sentuhan kain batik tradisional Banyuwangi, hingga peragaan pakaian bertema etnik yang menawan. Gelak tawa, riuh tepuk tangan, dan dukungan hysteria dari teman-teman sekelas membakar semangat para peserta yang berlaga.

Lomba fashion show ini bukan sekadar ajang peragaan busana belaka, melainkan media bagi peserta didik untuk melatih rasa percaya diri, estetika, serta keberanian tampil di depan publik. Hal ini dinilai sangat sejalan dengan visi pendidikan vokasi yang menuntut calon lulusannya memiliki mentalitas yang tangguh serta kemampuan beradaptasi yang tinggi di dunia kerja maupun masyarakat luas.


Pendidikan Karakter dan Nilai Korsa Kelautan

Kepala SMKN 1 Kalipuro, Agung Rahmadi, S.Pd., M.Si., mengungkapkan rasa bangga dan harunya atas antusiasme luar biasa yang ditunjukkan oleh seluruh anak didiknya sepanjang pelaksanaan rangkaian kegiatan ini. Menurut Agung, kegiatan peringatan perayaan keagamaan seperti Maulid Nabi harus dimaknai lebih dalam dari sekadar agenda rutinitas tahunan di kalender akademik.

Agung menegaskan bahwa melalui proses pengerjaan jodang ndog-ndogan antarkelas dan kompetisi fashion show, para siswa secara tidak langsung diberi ruang publik yang seluas-luasnya untuk mengekspresikan ide, minat, dan bakat seni mereka. Lebih jauh, setiap karya yang dihasilkan memuat pesan moral, karakter, serta filosofi hidup yang mendalam.

"Kami sengaja memberikan ruang publik yang bebas tetapi terarah bagi anak didik untuk berkreasi. Ketika mereka merancang jodang, mereka belajar tentang perencanaan, estetika, serta filosofi di balik tradisi telur hias tersebut. Telur memiliki tiga lapisan: kulit, putih telur, dan kuning telur yang melambangkan keimanan, keislaman, dan keihsanan. Nilai-nilai inilah yang ingin kita tanamkan ke dalam jiwa mereka," jelas Agung Rahmadi saat ditemui di sela-sela acara kirab.

Selain penguatan karakter individu, Agung juga menyoroti pentingnya pembentukan "jiwa korsa kelautan" yang menjadi pilar utama di SMKN 1 Kalipuro. Sebagai lembaga pendidikan yang mencetak tenaga kerja profesional dan perwira pelayaran kapal niaga, solidaritas, kedisiplinan, serta kerja sama tim yang solid adalah fondasi yang tidak boleh ditawar-tawar.

"Di laut lepas nanti, seorang perwira kapal tidak bisa bekerja sendiri. Mereka harus mengandalkan satu sama lain dalam satu komando dan satu korsa. Proses mengarak jodang bersama-sama, memikul beban yang sama di bawah terik matahari, serta menyelaraskan langkah kaki mengikuti irama drumband hari ini adalah manifestasi nyata dari pembentukan jiwa korsa kelautan tersebut. Dan di atas segalanya, seluruh rangkaian acara ini adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat umur, kesehatan, dan kesempatan untuk terus belajar," tutur Agung dengan penuh ketegasan.

Potret Indah Toleransi dan Praktik Berpancasila

Salah satu fenomena paling menyentuh dan mencuri perhatian dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Kalipuro tahun ini adalah tingginya keterlibatan siswa-siswi non-Muslim dalam menyukseskan acara. Di beberapa kelas yang memiliki keberagaman latar belakang agama, siswa beragama Hindu, Kristen, maupun Katolik tampak bahu-membahu bersama rekan-rekan mereka yang Muslim dalam merangkai jodang dan mempersiapkan perlengkapan kirab.

Pemandangan inklusif ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai toleransi, gotong-royong, dan semangat Binneka Tunggal Ika telah mengakar secara alami di dalam lingkungan sekolah. Tidak ada sekat dogmatis yang membatasi mereka untuk saling membantu dan berkolaborasi dalam sebuah kegiatan ekspresi budaya sekolah.

Kondisi tersebut secara khusus mendapat apresiasi mendalam dari Kepala SMKN 1 Kalipuro. Agung Rahmadi mengaku sangat terharu ketika menyaksikan langsung bagaimana para siswa tanpa memandang perbedaan keyakinan dapat bersatu padu demi membawa nama baik kelas dan sekolah mereka.

”Saya merasa sangat terharu karena ada kelas yang terdiri dari beberapa agama bisa saling bertoleransi dan bergotong-royong. Ini sebuah pemandangan yang amat menyejukkan hati. Fenomena ini berarti mencerminkan bahwa semangat berpancasila dan berkebinekaan yang selama ini kita dengungkan benar-benar terwujud dan hidup di lingkungan SMKN 1 Kalipuro,” ungkap Agung dengan mata berkaca-kaca penuh kebanggaan.

Nilai kebinekaan yang tecermin ini sejalan dengan profil pelajar Pancasila yang terus digalakkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Di SMKN 1 Kalipuro, toleransi bukan sekadar teori di atas lembaran kertas ujian atau bahan hafalan pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) atau Pendidikan Pancasila, melainkan sebuah pengejahwantahan sosial yang dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Spirit Kerohanian dan Harapan Syafaat

Senada dengan Kepala Sekolah, Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi SMKN 1 Kalipuro, Mohamad Shodiqin, S.Pd., M.M., yang didampingi oleh guru agama Islam, Selamet Pribadi, S.Pd.I., dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Gilang Ramadhan, S.Pd., menyampaikan rasa bahagianya atas kelancaran seluruh rangkaian acara.

Shodiqin mengungkapkan bahwa rasa lelah yang dirasakan oleh panitia dan seluruh pihak yang terlibat seketika sirna saat melihat pancaran semangat dan wajah berseri-seri dari para peserta didik sepanjang sepekan terakhir. Sebagai sekolah pencetak calon perwira pelayaran kapal niaga yang identik dengan disiplin ketat dan kurikulum fisiknya yang padat, senyum kebahagiaan para siswa menjadi penawar yang luar biasa.

"Melihat wajah-wajah berseri anak-anak kita dari berbagai jurusan saat mengarak jodang dan mengikuti lomba adalah kebahagiaan yang tidak tertandingi bagi kami para pendidik. Kami ingin memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya sebagai ajang hura-hura budaya, tetapi ada nilai kerohanian mendalam yang ditanamkan," kata Mohamad Shodiqin.

Lebih lanjut, Shodiqin menegaskan bahwa tujuan utama dari penyelenggaraan acara ini adalah membimbing para siswa agar mampu meneladani sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW seperti kejujuran (shiddiq), keterpercayaan (amanah), penyampaian kebaikan (tabligh), dan kecerdasan (fathanah). Sifat-sifat ini dinilai sangat relevan dan dibutuhkan oleh seorang calon perwira kapal niaga saat nantinya mengarungi samudra luas dan berinteraksi dengan masyarakat internasional.

"Harapan tertinggi kita semua, keluarga besar SMKN 1 Kalipuro Banyuwangi, melalui peringatan ini adalah kelak di yaumil kiamat kita semua mendapatkan pengakuan sebagai umat Nabi Muhammad SAW dan berhasil meraih syafaat beliau atas ridho Allah SWT. Semoga ikhtiar kecil yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan ini dicatat sebagai amal soleh," tambah Shodiqin yang diangguki setuju oleh Selamet Pribadi dan Gilang Ramadhan.


Puisi, Pidato Bahasa Inggris, dan Tausiyah Hikmah

Setelah prosesi kirab jodang selesai mengelilingi wilayah Kalipuro dan seluruh rombongan kembali ke area sekolah, acara dilanjutkan dengan majelis tausiyah dan pentas seni religius di aula utama SMKN 1 Kalipuro. Suasana yang semula riuh dengan irama drumband berubah menjadi lebih khidmat dan tenang.

Pentas seni dibuka dengan penampilan menggelegar sekaligus mengharukan dari Natasya Febriani, siswi kelas XI Jurusan Tata Boga Kapal Niaga. Natasya membawakan sebuah puisi religius yang mengagungkan perjuangan dan kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Penghayatan Natasya yang mendalam, ditunjang dengan artikulasi vokal yang puitis, berhasil membuat aula sekolah hening sejenak. Tidak sedikit guru dan peserta didik yang meneteskan air mata tersentuh oleh bait-bait puisi yang dilantunkannya.

Tidak berhenti di situ, menunjukkan kelasnya sebagai sekolah Pelayaran Kapal Niaga berstandar nasional yang siap mencetak tenaga kerja global, acara dilanjutkan dengan penampilan pidato berbahasa Inggris (English speech) oleh perwakilan siswi. Dengan gaya bahasa yang lugas, percaya diri, dan struktur tata bahasa yang runtut, sang siswi menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa internasional. Penampilan ini membuktikan bahwa para peserta didik SMKN 1 Kalipuro tidak hanya mahir dalam keterampilan teknis dan budaya lokal, tetapi juga memiliki kecakapan berbahasa asing yang mumpuni.

Puncak dari rangkaian acara majelis tersebut adalah penyampaian tausiyah hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW. Pihak sekolah menghadirkan penceramah kondang yang juga merupakan tokoh agama terkemuka di Banyuwangi, K.H. Achmad Siddiq Wahid, S.Ag., M.H.I., atau yang lebih akrab disapa Gus Shiddiq. Gus Shiddiq merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwari Kertosari, Banyuwangi, sekaligus bertugas sebagai penyuluh di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalipuro.

Dalam ceramahnya yang berdurasi sekitar satu jam, Gus Shiddiq membawakan materi bertajuk "Meneladani Akhlak dan Meningkatkan Cinta Kepada Rasulullah SAW". Dengan gaya penyampaian yang hangat, sesekali diselingi humor segar khas pesantren, Gus Shiddiq berhasil membangun interaksi yang akrab dengan ratusan siswa yang mendengarkan secara khusyuk.

Gus Shiddiq menekankan bahwa bukti cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad SAW tidak boleh berhenti hanya pada kata-kata atau seremonial semata. Menurutnya, ada tiga pilar utama dalam mengekspresikan rasa cinta tersebut secara aktual di kehidupan sehari-hari.

"Mencintai Rasulullah SAW itu harus diawali dengan mengenal sejarah hidup beliau (siroh nabawiyah). Bagaimana mungkin kita mengaku cinta jika kita tidak kenal siapa yang kita cintai? Setelah mengenal, pilar kedua adalah meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam tindakan nyata—bagaimana beliau menghormati orang tua, menyayangi sesama, bertoleransi dengan non-Muslim, dan jujur dalam berdagang maupun bekerja. Pilar ketiga adalah dengan memperbanyak zikir dan bersalawat kepada beliau," papar Gus Shiddiq secara lugas.

Sebelum mengakhiri ceramahnya, Gus Shiddiq memberikan pesan khusus yang sangat mendalam bagi para peserta didik SMKN 1 Kalipuro yang sedang menuntut ilmu sebagai persiapan masa depan. Pesan ini ditujukan untuk memacu semangat belajar dan integritas moral para pemuda.

“Anda adalah pemuda hari ini yang akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Masa depan bangsa, negara, dan industri maritim kita ada di pundak kalian. Maka bentengilah diri kalian dengan akhlakul karimah dan keteladanan Rasulullah,” ujar Gus Shiddiq menekankan pesan kuncinya.

Rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Kalipuro akhirnya resmi ditutup dan diakhiri dengan pembacaan untaian doa yang dipimpin langsung oleh Gus Shiddiq. Suasana khusyuk menyelimuti seluruh ruangan saat doa-doa kebaikan dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, kemajuan sekolah, serta keberkahan bagi seluruh peserta didik.

Kesalehan Sosial yang Abadi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Kalipuro Banyuwangi tahun 2026 ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana nilai-nilai keagamaan, tradisi lokal, dan pendidikan karakter dapat bersinergi secara harmonis. Kesalehan ritual yang diwujudkan melalui doa, zikir, dan salawat berkelindan sempurna dengan kesalehan sosial yang tecermin dari sikap gotong-royong, toleransi lintas agama, serta kepedulian terhadap kelestarian budaya lokal.

Semangat kesalehan sosial yang terpancar kuat di lingkungan SMK Negeri 1 Kalipuro Banyuwangi sepanjang sepekan ini diharapkan tidak berhenti seiring dengan berakhirnya panggung acara. Harapan besar tertumpang agar nilai-nilai kebaikan, toleransi, dan solidaritas tersebut terus menyatu dalam iklim belajar-mengajar di sekolah ini, hari ini, esok, dan seterusnya.#

 

SMKN 1 KALIPURO

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor