DPRD BANYUWANGI DUKUNG KEMAJUAN SMKN 1 KALIPURO
BANYUWANGI, e-bulletin—Di tengah hamparan pohon kelapa yang
menjulang di kawasan Kalipuro, deru mesin dan aroma laut seolah menyatu dengan
semangat para taruna. Di sini, di SMKN 1 Kalipuro, sebuah narasi besar tentang
kedaulatan maritim dari pinggiran Banyuwangi sedang ditulis ulang.
Kamis (7/5/2026), suasana sekolah pelayaran itu tampak berbeda. Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, S.H., datang berkunjung. Namun, kali ini ia tidak datang sendiri. Made membawa serta rombongan Komisi IV DPRD Banyuwangi. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni kedinasan, melainkan sebuah perjalanan nostalgia sekaligus upaya penggalangan dukungan politik untuk masa depan pendidikan vokasi maritim di "Bumi Blambangan".
Bagi Made,
SMKN 1 Kalipuro bukan sekadar institusi pendidikan. Sekolah ini adalah
"anak kandung" dari perjuangan panjang yang ia kawal sejak titik nol.
Jejak Sejarah: Dari Gedung Imigrasi ke Kebun
Kelapa
Berdiri di
hadapan rekan-rekannya di Komisi IV, Made Cahyana berkisah tentang masa-masa
sulit tahun 2011. Kala itu, ia menjabat sebagai Ketua Komite Sekolah saat SMKN
1 Kalipuro pertama kali dirintis sebagai sekolah pelayaran kapal niaga pertama
di Banyuwangi.
"Dahulu,
kami tidak punya apa-apa. Kami menumpang di gedung lama Imigrasi di Meneng,
Ketapang. Fasilitas terbatas, tetapi mimpi kami besar: mencetak pelaut tangguh
dari tanah kelahiran sendiri," ujar Made sembari menunjuk beberapa sudut
sekolah yang kini telah berubah drastis.
Perjuangan itu
membuahkan hasil pada tahun 2013. Melalui lobi-lobi yang ulet dan komitmen kuat
terhadap pendidikan, pembangunan gedung sekolah mandiri akhirnya rampung.
Lokasinya terbilang unik, yakni di tengah perkebunan kelapa yang rimbun di
Jalan Denpasar Nomor 17 XX, Kalipuro. Sejak saat itu, sekolah ini dikenal luas
sebagai "Kampus Kelapa" yang melahirkan perwira-perwira muda kapal
niaga.
Transformasi
dari gedung pinjaman menjadi fasilitas pendidikan yang representatif di lahan
hijau tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi politik dan kepedulian
masyarakat bisa mengubah wajah pendidikan daerah.
Milestone 2026: Pengakuan Internasional
Melalui "Approval"
Kunjungan
Ketua DPRD dan Komisi IV ini terjadi di momen yang krusial. Belum genap tiga
bulan, tepatnya pada 5 Februari 2026, SMKN 1 Kalipuro resmi meraih approval
atau pengakuan resmi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla)
Kementerian Perhubungan.
Approval ini bukan
sekadar sertifikat di atas kertas. Dalam dunia maritim, pengakuan ini adalah
"nyawa" bagi sebuah sekolah pelayaran. Tanpa approval, lulusan
tidak akan mendapatkan sertifikat keahlian pelaut yang diakui secara
internasional. Dengan diraihnya status ini, SMKN 1 Kalipuro kini sejajar dengan
institusi pendidikan pelayaran elit lainnya di Indonesia.
"Ini
adalah kemenangan bagi anak-anak Banyuwangi. Sekarang, taruna kita dari jurusan
Nautika maupun Teknika tidak perlu ragu lagi. Ijazah dan sertifikasi mereka
punya daya tawar internasional," tegas Made di hadapan para anggota dewan
dan jajaran pendidik SMKN 1 Kalipuro.
Saat ini,
sekolah tersebut mengelola empat program keahlian yang sangat spesifik dan
dibutuhkan oleh industri pelayaran global:
- Nautika Kapal Niaga: Mencetak calon perwira dek.
- Teknika Kapal Niaga: Menyiapkan ahli mesin kapal yang andal.
- Tata Boga Kapal Niaga: Jurusan strategis yang menyiapkan tenaga
profesional untuk manajemen konsumsi di kapal pesiar maupun kapal kargo.
- Teknik Pengelasan Kapal Niaga: Menyiapkan teknisi konstruksi kapal yang
memiliki standar keamanan tinggi.
Tantangan Infrastruktur: Urgensi Asrama Representatif
Walaupun
prestasi akademik dan pengakuan regulasi telah digenggam, SMKN 1 Kalipuro masih
menghadapi kendala klasik: infrastruktur pendukung kehidupan taruna. Sebagai
sekolah dengan sistem kedisplinan tinggi, asrama merupakan komponen vital dalam
membentuk karakter dan mental para siswa.
Namun,
realita di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan. Saat ini, fasilitas asrama
yang ada hanya mampu menampung 30 peserta didik. Angka ini sangat jauh dari
jumlah total taruna yang terus bertambah setiap tahunnya seiring meningkatnya
minat masyarakat terhadap dunia maritim.
"Kita
tidak bisa membiarkan taruna kita hanya belajar teknis tanpa pembentukan
karakter di lingkungan asrama yang layak. Kapasitas 30 orang itu sangat kecil.
Kita butuh asrama yang representatif agar sistem pendidikan semi-militer dan
pembangunan karakter mandiri bisa berjalan maksimal," kata Made.
Dalam
dialog bersama Komisi IV, Made secara eksplisit meminta dukungan rekan-rekannya
untuk memperjuangkan anggaran dan kebijakan yang mendukung perluasan asrama. Ia
ingin memastikan bahwa pemerintah daerah dan provinsi bersinergi untuk
memperbesar kapasitas hunian siswa tersebut.
Pembangunan
asrama ini dipandang mendesak bukan hanya untuk menampung siswa dari luar
daerah, tetapi juga sebagai laboratorium kehidupan bagi siswa lokal agar mereka
terbiasa dengan ritme kerja di atas kapal yang menuntut kedisiplinan dan
kebersamaan 24 jam penuh.
Menuju Ikon Maritim Banyuwangi
Visi besar
Made Cahyana Negara tidak berhenti pada pemenuhan fasilitas fisik. Ia bermimpi
SMKN 1 Kalipuro menjadi ikon baru Kabupaten Banyuwangi. Jika selama ini
Banyuwangi dikenal dengan pariwisata dan festivalnya, Made ingin daerah paling
timur di Pulau Jawa ini juga dikenal sebagai lumbung pelaut dunia.
"Banyuwangi
memiliki garis pantai yang panjang dan posisi strategis di Selat Bali. Sangat
ironis jika kita tidak punya sekolah pelayaran yang menjadi rujukan nasional.
SMKN 1 Kalipuro harus menjadi mercusuar itu," tuturnya.
Kehadiran
Komisi IV dalam kunjungan tersebut diharapkan mampu membuka mata para pengambil
kebijakan bahwa investasi di bidang pendidikan maritim adalah investasi jangka
panjang yang pasti menguntungkan bagi pengentasan kemiskinan dan peningkatan
kesejahteraan warga. Lulusan kapal niaga dikenal memiliki pendapatan yang
tinggi, yang pada gilirannya akan memberikan dampak ekonomi (multiplier
effect) bagi keluarga mereka di Banyuwangi.
Dukungan
politik dari DPRD menjadi kunci. Tanpa keberpihakan anggaran, mimpi menjadikan
SMKN 1 Kalipuro sebagai sekolah percontohan akan berjalan lambat. Made
berkomitmen untuk terus mengawal progres pembangunan gedung asrama ini hingga
terwujud, demi memastikan keberlanjutan prestasi yang telah diraih.
Harapan dan Keberlanjutan
Para
pendidik di SMKN 1 Kalipuro menyambut baik kunjungan ini. Mereka melihat sosok
Made sebagai jembatan aspirasi yang memahami sejarah dan keringat di balik
berdirinya sekolah ini. Bagi mereka, dukungan dari Ketua DPRD dan Komisi IV
adalah angin segar di tengah upaya sekolah untuk terus meningkatkan kualitas
pelayanan pendidikan.
Kunjungan
ini diawali dengan peninjauan langsung ke area laboratorium simulator Nautika
Kapal Niaga dan bengkel kerja. Made menyempatkan diri berdialog dengan beberapa
taruna yang sedang berlatih mengelas dan mengoperasikan simulator navigasi.
Raut wajah optimisme terpancar dari para taruna, melihat pemimpin daerah mereka
hadir dan peduli pada nasib pendidikan mereka.
Kisah SMKN
1 Kalipuro adalah kisah tentang bagaimana sebuah mimpi di sebuah gedung
imigrasi tua bisa tumbuh menjadi institusi yang diakui negara; dan kini, di
bawah pohon-pohon kelapa Kalipuro, mimpi itu sedang dipacu untuk terbang lebih
tinggi—menuju samudera luas, membawa nama harum Banyuwangi ke seluruh dunia.
Jika asrama
representatif itu segera berdiri, maka kepingan terakhir dari puzzle
kemajuan SMKN 1 Kalipuro akan lengkap. Banyuwangi tidak hanya akan memiliki
pelabuhan besar, tetapi juga memiliki "pabrik" manusia tangguh yang
siap menaklukkan ombak di bawah bendera kapal-kapal niaga dunia.