Aroma Kembang Endhog dan Deru Samudra di Ujung Timur Jawa: Maulid Nabi di SMKN 1 Kalipuro
Langit
Kalipuro pagi itu, Senin, 14 September 2026, memancarkan bias keemasan yang
menembus sela-sela perbukitan, menyapa gerbang SMKN 1 Kalipuro, Banyuwangi.
Sekolah kejuruan yang dikenal sebagai kawah candradimuka para perwira pelayaran
kapal niaga itu tampak berbeda dari hari-hari biasa. Di balik disiplin tinggi
yang melekat pada para taruna-taruni berseragam korps pelaut, hari itu atmosfer
berubah semarak. Aroma batang pisang segar bercampur wangi kertas krep
warna-warni menguar di setiap sudut koridor.
Bukan pelatihan
navigasi atau mesin kapal yang menjadi fokus utama hari itu, melainkan sebuah
tradisi adiluhung: pembuatan jodang. Selama dua hari penuh, hingga
Selasa, 15 September 2026, para peserta didik bahu-membahu merangkai batang
pohon pisang menjadi wadah hias yang sarat makna. Jodang-jodang tersebut
dipenuhi oleh kembang endhog—telur rebus yang ditusuk pada bilah bambu
kecil dan dibalut hiasan kertas warna-warni yang meriah.
Bagi
masyarakat Banyuwangi, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak pernah bisa
dilepaskan dari tradisi endog-endogan. Tradisi ini telah berurat
berakar, menjadi identitas kultural yang merekatkan keimanan dan kebudayaan
lokal. Di SMKN 1 Kalipuro, tradisi ini tidak sekadar dirayakan secara
seremonial, melainkan dihidupkan kembali melalui tangan-tangan terampil para
generasi muda calon pelaut bangsa.
Filosofi Jodang
dan Simbolisme Kehidupan
Di
ruang-ruang praktikum dan halaman sekolah, para taruna tampak telaten menyusun
kerangka jodang. Di balik kemeriahan visualnya, setiap elemen yang
melekat pada jodang menyimpan lapis-lapis filosofi yang mendalam,
mencerminkan kearifan lokal masyarakat Using Banyuwangi.
Pohon
pisang yang dijadikan struktur utama jodang bukan tanpa alasan dipilih.
Dalam kearifan lokal, pohon pisang melambangkan kesuburan, ketangguhan, dan
kehidupan. Filosofi tumbuhan ini sangat lekat dengan sifat yang diharapkan dari
manusia: tidak akan mati sebelum berbuah, memberikan manfaat seluas-luasnya
bagi sesama. Filosofi ini menemukan relevansinya yang kuat dengan visi SMKN 1
Kalipuro sebagai pencetak perwira pelayaran niaga yang nantinya harus siap
berlayar mengarungi samudra demi menebar manfaat bagi dunia.
Sementara
itu, kembang endhog—yang terdiri atas telur rebus berhias kertas
krep—memiliki makna simbolis yang kuat tentang kelahiran dan awal kehidupan
baru. Telur merepresentasikan potensi murni yang suci. Ketika dibalut dengan
bunga kertas warna-warni, ia menggambarkan kebahagiaan, semangat gotong-royong,
serta dinamika harapan dalam mengarungi jalan hidup.
Bagi para
peserta didik, proses pembuatan jodang ini menjadi ajang internalisasi
nilai-nilai kebersamaan. Di bawah didikan para guru, mereka belajar meredam ego
individual demi menghasilkan karya kolektif yang indah. Gotong-royong menjadi
napas utama di tengah kesibukan mereka menyiapkan diri menghadapi dunia kerja
maritim yang kompetitif.
Panggung
Keteladanan dan Busana Muslim
Memasuki
hari ketiga, Rabu, 16 September 2026, rangkaian acara mencapai eskalasi
kemeriahan yang berbeda. Lapangan utama (plaza) sekolah disulap menjadi
panggung peragaan busana. Bukan sembarang fashion show, ajang ini
menampilkan busana muslim yang dikenakan oleh Kepala Sekolah, dewan guru, hingga
para peserta didik dengan penuh percaya diri.
Acara
dibuka secara khidmat dengan lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW yang merdu,
dikumandangkan langsung oleh Ketua Panitia, Muhammad Shodikin, S.Pd., M.M.
Suasana langsung terhanyut dalam ketenangan spiritual sebelum akhirnya
bergemuruh tatkala Kepala SMKN 1 Kalipuro, Agung Rahmadi, S.Pd., M.Si.,
naik ke podium untuk menyampaikan sambutan resminya.
Dalam
pidatonya, Agung menekankan pentingnya menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai
kompas moral dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup akademik, sosial,
maupun profesional di dunia maritim kelak.
"Keteladanan
Nabi Muhammad SAW adalah mercusuar abadi. Sebagai calon perwira pelayaran yang
kelak akan memimpin di atas geladak kapal dan berinteraksi dengan dunia
internasional, integritas, kejujuran, dan akhlak mulia Baginda Nabi adalah
panutan mutlak yang harus kita pegang teguh," ujar Agung di hadapan
ratusan taruna dan guru.
Usai
memberikan sambutan, Agung secara resmi membuka rangkaian acara puncak tersebut,
yang langsung disambut oleh gegap-gempita tepuk tangan penonton.
Atraksi
Busana dan Aroma Kuliner Nusantara
Panggung fashion
show seketika hidup. Penampilan para guru dan perwakilan peserta didik
tampil sangat atraktif, mematahkan stigma bahwa dunia pendidikan kejuruan
pelayaran kaku dan monoton. Variasi busana muslim yang dipadukan dengan gaya
modis namun tetap syar'i mengundang gelak tawa dan riuh dukungan dari penonton.
Kemeriahan
semakin memuncak tatkala peragaan busana kelas demi kelas dimulai secara
bergiliran. Didampingi langsung oleh para wali kelas masing-masing, para
taruna-taruni dari tingkat kelas X hingga kelas XI tampil bergantian
menunjukkan kreativitas busana mereka.
"Penampilan
kelas X dan XI sangat memukau. Mereka tidak hanya menunjukkan busana terbaik,
tetapi juga kekompakan tim yang luar biasa," ungkap salah seorang guru
pengamat acara.
Sementara
itu, siswa kelas XII harus absen dari kemeriahan panggung ini. Sebagian besar
dari mereka tengah terjun langsung dalam program Praktik Kerja Lapangan (PKL),
mengimplementasikan ilmu nautika dan teknika di dunia industri pelayaran
sesungguhnya.
Di sisi
lain lapangan, denyut ekonomi kerakyatan berdenyut kencang melalui bazar yang
disajikan oleh para peserta didik berkolaborasi dengan ibu-ibu Dharma Wanita
Persatuan SMKN 1 Kalipuro. Berbagai hidangan menggugah selera disajikan dengan
harga yang sangat terjangkau bagi para siswa.
Bazar
tersebut menawarkan ragam kuliner yang memanjakan lidah, mulai dari nasi Padang
yang kaya rempah, nasi goreng gurih, hingga hidangan penyejuk seperti es kopyor
dan es campur. Tak ketinggalan, kudapan modern hingga tradisional seperti
cokelat, pisang cokelat (piscok), lumpia, hotdog, hingga sale pisang turut
diserbu pembeli. Aroma masakan berpadu dengan gelak tawa, menciptakan
kehangatan kekeluargaan yang begitu kental di lingkungan sekolah kejuruan
tersebut.
Kirab Jodang
dan Petuah Sang Da'i
Rangkaian
peringatan Maulid Nabi di SMKN 1 Kalipuro ternyata belum usai. Perayaan akbar
ini dijadwalkan masih berlanjut pada keesokan harinya, Kamis, 17 September
2026.
Agenda hari
terakhir akan diawali dengan prosesi penilaian dan pelepasan kirab jodang.
Kirab ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Lurah Kalipuro. Rute kirab,
yang membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, akan mengitari kawasan
sekitar Kelurahan Kalipuro. Barisan taruna berseragam rapi yang mengarak jodang
megah dipastikan akan menjadi tontonan yang menarik sekaligus membanggakan bagi
warga setempat.
Puncak dari
seluruh rangkaian acara maulid ini akan ditutup dengan siraman rohani berupa
ceramah agama yang akan disampaikan oleh Gus Shidiq, seorang da'i
terkemuka dari Pondok Pesantren Al-Anwari, Kertosari, Banyuwangi. Pesan-pesan
moral dan keagamaan dari sang kiai diharapkan mampu memperteguh keimanan para
taruna sebelum mereka kembali melaut menimba ilmu.
Melalui
perayaan Maulid Nabi yang terencana matang ini, SMKN 1 Kalipuro membuktikan
bahwa institusi pendidikan vokasi pelayaran tidak hanya berorientasi pada
pencapaian kompetensi teknis semata. Lebih dari itu, sekolah ini sukses merawat
tradisi lokal, menanamkan karakter luhur, dan mencetak generasi pelaut
Indonesia yang tidak hanya tangguh di tengah gelombang samudra, tetapi juga
teguh berakar pada nilai-nilai spiritualitas agama dan budaya bangsa.
Bagaimana
pandangan Anda terhadap integrasi tradisi lokal seperti endog-endogan di
lingkungan pendidikan kejuruan modern seperti SMKN 1 Kalipuro ini?#