Aroma Kembang Endhog dan Deru Samudra di Ujung Timur Jawa: Maulid Nabi di SMKN 1 Kalipuro

Featured blog image
DIMENSI • 16 September 2026

Aroma Kembang Endhog dan Deru Samudra di Ujung Timur Jawa: Maulid Nabi di SMKN 1 Kalipuro

Author

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor

Langit Kalipuro pagi itu, Senin, 14 September 2026, memancarkan bias keemasan yang menembus sela-sela perbukitan, menyapa gerbang SMKN 1 Kalipuro, Banyuwangi. Sekolah kejuruan yang dikenal sebagai kawah candradimuka para perwira pelayaran kapal niaga itu tampak berbeda dari hari-hari biasa. Di balik disiplin tinggi yang melekat pada para taruna-taruni berseragam korps pelaut, hari itu atmosfer berubah semarak. Aroma batang pisang segar bercampur wangi kertas krep warna-warni menguar di setiap sudut koridor.

Bukan pelatihan navigasi atau mesin kapal yang menjadi fokus utama hari itu, melainkan sebuah tradisi adiluhung: pembuatan jodang. Selama dua hari penuh, hingga Selasa, 15 September 2026, para peserta didik bahu-membahu merangkai batang pohon pisang menjadi wadah hias yang sarat makna. Jodang-jodang tersebut dipenuhi oleh kembang endhog—telur rebus yang ditusuk pada bilah bambu kecil dan dibalut hiasan kertas warna-warni yang meriah.

Bagi masyarakat Banyuwangi, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak pernah bisa dilepaskan dari tradisi endog-endogan. Tradisi ini telah berurat berakar, menjadi identitas kultural yang merekatkan keimanan dan kebudayaan lokal. Di SMKN 1 Kalipuro, tradisi ini tidak sekadar dirayakan secara seremonial, melainkan dihidupkan kembali melalui tangan-tangan terampil para generasi muda calon pelaut bangsa.


Filosofi Jodang dan Simbolisme Kehidupan

Di ruang-ruang praktikum dan halaman sekolah, para taruna tampak telaten menyusun kerangka jodang. Di balik kemeriahan visualnya, setiap elemen yang melekat pada jodang menyimpan lapis-lapis filosofi yang mendalam, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Using Banyuwangi.

Pohon pisang yang dijadikan struktur utama jodang bukan tanpa alasan dipilih. Dalam kearifan lokal, pohon pisang melambangkan kesuburan, ketangguhan, dan kehidupan. Filosofi tumbuhan ini sangat lekat dengan sifat yang diharapkan dari manusia: tidak akan mati sebelum berbuah, memberikan manfaat seluas-luasnya bagi sesama. Filosofi ini menemukan relevansinya yang kuat dengan visi SMKN 1 Kalipuro sebagai pencetak perwira pelayaran niaga yang nantinya harus siap berlayar mengarungi samudra demi menebar manfaat bagi dunia.

Sementara itu, kembang endhog—yang terdiri atas telur rebus berhias kertas krep—memiliki makna simbolis yang kuat tentang kelahiran dan awal kehidupan baru. Telur merepresentasikan potensi murni yang suci. Ketika dibalut dengan bunga kertas warna-warni, ia menggambarkan kebahagiaan, semangat gotong-royong, serta dinamika harapan dalam mengarungi jalan hidup.

Bagi para peserta didik, proses pembuatan jodang ini menjadi ajang internalisasi nilai-nilai kebersamaan. Di bawah didikan para guru, mereka belajar meredam ego individual demi menghasilkan karya kolektif yang indah. Gotong-royong menjadi napas utama di tengah kesibukan mereka menyiapkan diri menghadapi dunia kerja maritim yang kompetitif.



Panggung Keteladanan dan Busana Muslim

Memasuki hari ketiga, Rabu, 16 September 2026, rangkaian acara mencapai eskalasi kemeriahan yang berbeda. Lapangan utama (plaza) sekolah disulap menjadi panggung peragaan busana. Bukan sembarang fashion show, ajang ini menampilkan busana muslim yang dikenakan oleh Kepala Sekolah, dewan guru, hingga para peserta didik dengan penuh percaya diri.

Acara dibuka secara khidmat dengan lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW yang merdu, dikumandangkan langsung oleh Ketua Panitia, Muhammad Shodikin, S.Pd., M.M. Suasana langsung terhanyut dalam ketenangan spiritual sebelum akhirnya bergemuruh tatkala Kepala SMKN 1 Kalipuro, Agung Rahmadi, S.Pd., M.Si., naik ke podium untuk menyampaikan sambutan resminya.

Dalam pidatonya, Agung menekankan pentingnya menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai kompas moral dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup akademik, sosial, maupun profesional di dunia maritim kelak.

"Keteladanan Nabi Muhammad SAW adalah mercusuar abadi. Sebagai calon perwira pelayaran yang kelak akan memimpin di atas geladak kapal dan berinteraksi dengan dunia internasional, integritas, kejujuran, dan akhlak mulia Baginda Nabi adalah panutan mutlak yang harus kita pegang teguh," ujar Agung di hadapan ratusan taruna dan guru.

Usai memberikan sambutan, Agung secara resmi membuka rangkaian acara puncak tersebut, yang langsung disambut oleh gegap-gempita tepuk tangan penonton.


Atraksi Busana dan Aroma Kuliner Nusantara

Panggung fashion show seketika hidup. Penampilan para guru dan perwakilan peserta didik tampil sangat atraktif, mematahkan stigma bahwa dunia pendidikan kejuruan pelayaran kaku dan monoton. Variasi busana muslim yang dipadukan dengan gaya modis namun tetap syar'i mengundang gelak tawa dan riuh dukungan dari penonton.

Kemeriahan semakin memuncak tatkala peragaan busana kelas demi kelas dimulai secara bergiliran. Didampingi langsung oleh para wali kelas masing-masing, para taruna-taruni dari tingkat kelas X hingga kelas XI tampil bergantian menunjukkan kreativitas busana mereka.

"Penampilan kelas X dan XI sangat memukau. Mereka tidak hanya menunjukkan busana terbaik, tetapi juga kekompakan tim yang luar biasa," ungkap salah seorang guru pengamat acara.

Sementara itu, siswa kelas XII harus absen dari kemeriahan panggung ini. Sebagian besar dari mereka tengah terjun langsung dalam program Praktik Kerja Lapangan (PKL), mengimplementasikan ilmu nautika dan teknika di dunia industri pelayaran sesungguhnya.

Di sisi lain lapangan, denyut ekonomi kerakyatan berdenyut kencang melalui bazar yang disajikan oleh para peserta didik berkolaborasi dengan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan SMKN 1 Kalipuro. Berbagai hidangan menggugah selera disajikan dengan harga yang sangat terjangkau bagi para siswa.

Bazar tersebut menawarkan ragam kuliner yang memanjakan lidah, mulai dari nasi Padang yang kaya rempah, nasi goreng gurih, hingga hidangan penyejuk seperti es kopyor dan es campur. Tak ketinggalan, kudapan modern hingga tradisional seperti cokelat, pisang cokelat (piscok), lumpia, hotdog, hingga sale pisang turut diserbu pembeli. Aroma masakan berpadu dengan gelak tawa, menciptakan kehangatan kekeluargaan yang begitu kental di lingkungan sekolah kejuruan tersebut.


Kirab Jodang dan Petuah Sang Da'i

Rangkaian peringatan Maulid Nabi di SMKN 1 Kalipuro ternyata belum usai. Perayaan akbar ini dijadwalkan masih berlanjut pada keesokan harinya, Kamis, 17 September 2026.

Agenda hari terakhir akan diawali dengan prosesi penilaian dan pelepasan kirab jodang. Kirab ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Lurah Kalipuro. Rute kirab, yang membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, akan mengitari kawasan sekitar Kelurahan Kalipuro. Barisan taruna berseragam rapi yang mengarak jodang megah dipastikan akan menjadi tontonan yang menarik sekaligus membanggakan bagi warga setempat.

Puncak dari seluruh rangkaian acara maulid ini akan ditutup dengan siraman rohani berupa ceramah agama yang akan disampaikan oleh Gus Shidiq, seorang da'i terkemuka dari Pondok Pesantren Al-Anwari, Kertosari, Banyuwangi. Pesan-pesan moral dan keagamaan dari sang kiai diharapkan mampu memperteguh keimanan para taruna sebelum mereka kembali melaut menimba ilmu.

Melalui perayaan Maulid Nabi yang terencana matang ini, SMKN 1 Kalipuro membuktikan bahwa institusi pendidikan vokasi pelayaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi teknis semata. Lebih dari itu, sekolah ini sukses merawat tradisi lokal, menanamkan karakter luhur, dan mencetak generasi pelaut Indonesia yang tidak hanya tangguh di tengah gelombang samudra, tetapi juga teguh berakar pada nilai-nilai spiritualitas agama dan budaya bangsa.

Bagaimana pandangan Anda terhadap integrasi tradisi lokal seperti endog-endogan di lingkungan pendidikan kejuruan modern seperti SMKN 1 Kalipuro ini?#

SMKN 1 KALIPURO

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor